Dyah R Martiningrum
Tidak mudah memulai tulisan ini.....rasa yang bercampur saat mengingat bagaimana awalnya, hingga saat ini saya bisa berada di sini, di salah satu universitas tua di Jepang, Universitas Kyoto. Universitas tertua di Jepang berdiri tahun 1858 (Keio University), sementara Kyoto University berdiri tahun 1897.
Membuka kembali putaran masa yang telah lewat....
Di tengah kesibukan menyiapkan workshop internasional di bulan Maret 2013, ada kabar bahwa RISTEK menawarkan kembali beasiswa untuk sekolah ke luar negeri dengan skema baru. Sebenarnya antara tertarik dan nggak pede karena merasa usia produktif saya untuk belajar sudah lewat. Hanya saja typical saya yang selalu penasaran dan seperti dapat tantangan dengan hal-hal baru, sampai rumah sempat diobrolin sama suami dan beliaunya sebenarnya nggak masalah kalau saya ingin lanjut sekolah. Hanya secara implisit sebenarnya lebih senang kalau saya sekolah di ITB lagi saja yang dekat. Hmmm... masih penasaran, apalagi kebayang serunya kalau bisa punya aktivitas yang berbeda dari rutinitas selama ini sekaligus memberi motivasi ke anak-anak bagaimana memperjuangkan mimpi.
Nggak terlalu lama setelah pulang dari magang riset di Jepang, tiba-tiba muncul ide untuk kontak Prof. dimana saya magang. Sekitar awal desember 2012 (kayaknya tanggal 5), saya coba kontak beliau untuk menanyakan kemungkinan bisa sekolah di sana dan ternyata nggak dijawab saudara-saudara...Ya sudah nggak papa. Mungkin beliaunya sibuk (dan ternyata memang beliaunya sdg disibukkan dgn satu proyek). Kembali ke kesibukan menyiapkan workshop.... sampai benar-benar datanglah tawaran beasiswa itu dan melihat syarat-syaratnya dada rasanya makin berdegup karena ternyata masih ada peluang buat saya mencobanya.
Ingat sekali hari itu, dua hari sesudah acara workshop internasional yang alhamdulillah berjalan lancar (28 Maret 2013), saya sebagai koordinator dapat email dari Prof. di Jepang, ucapan terima kasih kepada panitia karena sudah menyiapkan acara itu....
Sambil baca email, iseng coba kontak seorang Prof yang bertemu dalam suatu acara symposium di Bath, UK tahun sebelumnya, dan coba menyampaikan keinginan untuk sekolah di Bath dan minta beliau sebagai pembimbing. Dan jawabannya sungguh sangat membesarkan hati. "The first thing to do is to make a formal application online. Then if you are offered a place we can send the letter. We may be able to provide you some help with fees - so apply online and put my name as supervisor ..."....(ngelamun dulu ah :-))...
Akhirnya mengurungkan niat daftar ke Bath dengan berbagai pertimbangan saat itu. Dasar rasa penasarannya tingkat tinggi, nyari2 lagi peluang bidang penelitian yang serupa dengan yang saya lakukan, tapi di Australia. Dan lagi-lagi jawabannya di luar dugaan. Tanpa tanya hal-hal detil di luar ketertarikan saya ke apa yang sedang beliau kerjakan, seorang Prof menjawab "Yes, I will be glad to have you as a PhD student in my team here...". Serasa mimpi, secara diri merasa termasuk orang yang sangat tidak pede-an. Makanya yang ini juga disimpan dulu. Karena yang di Inggris prosedurnya online dan memerlukan rekomendasi dari senior, maka saya mencoba kontak peneliti senior di kantor yang menurut saya adalah orang yang pas untuk diminta rekomendasinya. Dan dengan nggak sopannya ternyata secara nggak sengaja saya mengganggu acara liburan keluarga beliau. Maaf ya Pak, semoga Allah membalas segala kebaikan Bapak.
Sekitar 5 April 2013 dapat kabar bahwa RISTEK hanya mengakomodasi tujuan sekolah ke Jerman dan Jepang, makanya hari itu juga coba kontak lagi ke Prof yang di Jepang. Balasan beliau saya terima tanggal 11 April. Ternyata ada sedikit salah paham. Beliau mengira saya ingin ke Jepang lagi untuk magang, makanya beliau pikir nggak usah buru2 toh waktunya bisa fleksibel. Setelah tahu bahwa saya hanya ada sedikit waktu lagi, hari itu beliau seharian komunikasi via email untuk menanyakan beberapa hal dari latar belakang pendidikan, apa yang sedang saya lakukan sekarang, sampai ke apa yang ingin saya lakukan kalau saya sekolah lagi di bawah bimbingannya. Beliau sebenarnya ragu karena latar belakang saya sains sementara beliau lebih banyak di teknik, walaupun akhirnya juga bersinggungan dengan saintifik dari alat yang dikuasai beliau yaitu radar. Masih ingat sekali bagaimana beliau mengingatkan kalau saya akan kesulitan di tesnya nanti karena latar belakang saya. Tapi akhirnya saya bisa yakinkan beliau kalau saya ingin coba dulu. Yes... dua hari sebelum deadline proposal, alhamdulillah akhirnya saya dapat LOA dari Prof. Mamoru Yamamoto dari Laboratorium Radio Sains Atmosfer di RISH, Universitas Kyoto. Perjuangan belum berakhir....
Karena Program RISET Pro 2013 adalah generasi pertama, maka beberapa persiapan administratif juga serba diburu-buru. Dari bulan Mei sampai menjelang tes bulan Agustus, waktu seperti berputar lebih cepat. Calon pembimbing mengirimi beberapa dokumen untuk tes dan persiapan administrasi yang harus saya siapkan, sementara syarat administratif di RISTEK juga harus disiapkan seperti TOEFL dll. Ketika semua syarat sudah terpenuhi ternyata ada kabar dari Prof bahwa TOEFL saya yang insititusi nggak bisa di pakai di Jepang, karena syaratnya harus TOEFL iBT (padahal teman2 di Jepang univ. lain nggak perlu seperti itu). Seumur-umur belum pernah tes TOEFL iBT, maka bisa dibayangkan dalam waktu sebulanan saya harus menyiapkan tes TOEFL iBT yang berbeda sekali dengan tes yang pernah saya ikuti. Udah gitu biayanya juga sama dengan gaji pokok sebulan :(. Tapi sekali sudah diniatkan pantang untuk mundur lagi. Kabar nggak enak lainnya adalah RISTEK belum bisa mengeluarkan dana untuk keperluan saya ikut tes ke universitas, jadi saya harus usahakan sendiri biaya perjalanan saya ke Jepang PP dan akomodasi selama 4 hari berada di sana (4-7 Agustus 2013). Kalau diingat lagi sekarang saya nggak tahu bagaimana saya bisa nekat membiayai semuanya itu dengan uang saya sendiri, yang tentu bagi keluarga saya itu bukan uang yang sedikit. Hanya karena Allah saja melalui seorang teman sehingga saya bisa tes juga di Jepang dan balik lagi ke Indonesia di malam takbir Idul Fitri 1434 H. Juga kehendak Allah sehingga Prof mau meluangkan waktu liburnya untuk menyiapkan tes tertulis maupun tes wawancara secara all out, bahkan sampai harus mengulang2 latihan presentasi sampai waktu saya tepat, tidak melebihi waktu yang disediakan. Terima kasih Prof, saya nggak akan lupa bagaimana loyalitas dan tanggungjawab anda terhadap profesi setelah menyanggupi akan membantu saya menuntut ilmu di sini.
Foto di atas adalah foto bersama beliau-beliau yang menginspirasi dan memberi energi positif bagi saya. Meja seberang saya dari kiri, peneliti senior LIPI Prof. Endang Sukara, Kepala LAPAN Prof. T. Djamaluddin, Ass. Prof. DR. Hashiguchi, Direktur RISH, Kyoto University Prof. T. Tsuda, dan pembimbing saya Prof. M. Yamamoto.
Dan kabar gembira itupun datanglah di hari kedua Idul Fitri. No tes saya ada di sana... alhamdulillah saya akan jadi mahasiswa lagi. Antara senang dan nggak percaya. Hasil yang cepat itu otomatis menjadi hal yang harus serius dipersiapkan dalam keluarga. Bismillah saja, coba menjelaskan ke suami dan anak2 berbagai kemungkinan langkah yang akan diambil. Akhirnya diputuskan saya berangkat dulu untuk melihat situasinya dan waktu yang memungkinkan kami bisa berkumpul kembali nantinya.
Keputusan untuk tidak membawa keluarga sekaligus ternyata memang keputusan yang tepat, karena kendala muncul terkait dana beasiswa. Pertama, ternyata semua biaya yang saya gunakan untuk tes dulu tidak akan pernah diganti (padahal sempat dijanjikan akan diganti). Yah anggap saja bukan rezeki.... Kedua, ternyata Living Allowance tidak kunjung cair sampai hampir dua bulan, sehingga saya sempat merasa sangat kesulitan. Alhamdulillah ada teman yang tanpa diminta menawarkan pertolongan. Mungkin mereka sudah hapal dengan karakteristik dari beasiswa dari dalam negeri. Dan alhamdulillah semakin ke sini urusan ini menjadi jauh lebih baik. Overall saya tetap bersyukur kepada Allah dapat kesempatan ini, karena saya yakin ini adalah jawaban akan doa-doa saya, doa-doa kami. Bukan doa agar bisa sekolah saja, tapi doa agar saya dan suami dapat undangan ke Baitullah dari negeri Sakura ini suatu saat. Semoga ini membuka peluang itu. Dan kami harus berusaha keras untuk mewujudkannya, tanpa melupakan bahwa saya dikirim ke sini untuk menuntut ilmu.
Rasa terima kasih dan penghargaan kepada suami dan anak-anak tercinta. Tanpa pertolongan dan pengertian mereka, bisa apa saya ini. Suami yang dipilihkan Allah mendampingi saya meraih mimpi dan cita-cita untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk keluarga dan orang lain dan anak-anak yang manis dan sangat pengertian dengan keterbatasan ibunya. Semoga Allah membalas semuanya. Semoga Allah menjadikan kita manusia yang pandai bersyukur dengan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan....
Man Jadda wajadda, Man Shabara Zhafira
Barangsiapa bersungguh-sungguh akan berhasil, barang siapa bersabar akan beruntung....
Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts
8/8/14
Reuni 25 Tahun ITB Angkatan 1989
Dyah R Martiningrum
Ingatan-ingatan masa lalu muncul di saat teman-teman seangkatan sedang bersiap untuk reuni sesudah 25 tahun berlalu...
Selamat berreuni teman-teman semua, selamat menyambung silaturahmi, semoga memperpanjang usia dan membawa manfaat untuk sesama...
Terima kasih kepada Freta Oktarina yang sudah mengkompilasi momen-momen Hoist the Flag dari berbagai belahan dunia sehingga menjadi kenangan yang indah untuk disimpan...
Ingatan-ingatan masa lalu muncul di saat teman-teman seangkatan sedang bersiap untuk reuni sesudah 25 tahun berlalu...
Selamat berreuni teman-teman semua, selamat menyambung silaturahmi, semoga memperpanjang usia dan membawa manfaat untuk sesama...
Terima kasih kepada Freta Oktarina yang sudah mengkompilasi momen-momen Hoist the Flag dari berbagai belahan dunia sehingga menjadi kenangan yang indah untuk disimpan...
8/4/14
Idul Fitri 1435 H dan Konferensi AOGS 2014
Dyah R Martiningrum
Bidang Iontelkom LAPAN
Saya ingat ketika saya sedang studi S2 tahun 2003, ada gagasan membuat komunitas sains kebumian di regional Asia dan Oceania. Berikut saya ambil dari pendahuluan di website AOGS :
Asia Oceania Geosciences Society (AOGS) was established in 2003 to promote geosciences and its application for the benefit of humanity, specifically in Asia and Oceania and with an overarching approach to global issues.
Asia- Oceania region is particularly vulnerable to natural hazards, accounting for almost 80% human lives lost globally. AOGS is deeply involved in addressing hazard related issues through improving our understanding of the genesis of hazards through scientific, social and technical approaches.
AOGS holds annual conventions providing a unique opportunity of exchanging scientific knowledge and discussion to address important geo-scientific issues among academia, research institution and public.
Recognizing the need of global collaboration, AOGS has developed good co-operation with other international geo-science societies and unions such as the European Geosciences Union (EGU), American Geophysical Union (AGU), International Union of Geodesy and Geophysics (IUGG), Japan Geo-science Union (JpGU), and Science Council of Asia (SCA).
Dari penjelasan itu dapat dilihat bahwa cakupan dan pendekatan ilmu kebumian dalam komunitas ini sangatlah luas dari ilmu dasar, aplikasi, sampai ke pendekatan sosial. Konferensi ini juga menjadi salah satu sarana yang baik untuk interaksi antara negara-negara yang sudah maju dalam ilmu kebumian dengan negara-negara yang sedang berkembang. Hal tersebut terlihat dari koneksi yang coba dibuat antara AOGS, EGU, AGU, IUGG, dan JpGu.
Acara dimulai Senin, 28 Juli 2014 s.d. 1 Agustus 2014. Hampir 3000 orang menghadiri konferensi ini. Khusus di sesi saya yaitu Coupling Processes in The Mesosphere-Thermosphere-Ionosphere System, terlihat beberapa peneliti yang sudah tidak asing di bidang ini datang dari Jepang, China, Korea, Amerika, Jerman, Taiwan, India, dll. Kali ini saya menampilkan poster tentang studi saya mengenai ketidakteraturan lapisan ionosfer kaitannya dengan sintilasi yang merupakan gangguan penerimaan sinyal satelit.
Kami berangkat ke Sapporo Minggu siang. Hari itu Kyoto sedikit mendung bahkan ketika saya naik kereta dari Ohbaku ke Kyoto, hujan turun lumayan deras sehingga sedikit menyejukkan badan yang masih menjalani shaum. Sebagaimana umumnya masyarakat sini yang merasa aneh dengan shaum ramadhan (mereka menganggap kita sedang menyiksa diri), guru saya juga wanti2 via email agar saya menjaga kondisi kesehatan selama perjalanan dan saya sampaikan ke beliau untuk tidak terlalu khawatir karena kami sudah biasa melakukan ini setiap tahun. Saya pikir inilah saatnya saya jelaskan sedikit tentang agama saya, bahwa ramadhan bukan dimaksudkan untuk menyiksa manusia. Terus ada hal lain lagi yang menarik buat beliau yaitu kenapa penentuan berakhirnya ramadhan berbeda-beda?. Dengan sedikit pemahaman yg saya punya, saya coba jelaskan bahwa hal tersebut sebenarnya hanya karena perbedaan kriteria dan sekarang sedang diusahakan oleh pemerintah dan para ahli untuk membuat hal tersebut menjadi tidak berbeda lagi. Tapi dengan sedikit diskusi itu malah menjadikan beliau ikut sibuk mencarikan masjid di Sapporo.
Satu syawal 1435 H ini selain Idul Fitri kedua saya di Jepang, juga karena sebenarnya adalah hari pertama konferensi AOGS. Alhamdulillah gu ru saya mengijinkan saya untuk sholat Ied setelah saya daftar ulang di acara konferensi. Sayang sekali seorang teman yang saya harapkan bisa pergi bareng ternyata harus stand by di tempat acara, jadilah saya harus mencari sendiri keberadaan masjid itu. Allah belum ijinkan saya sholat hari itu karena masjid baru ketemu sesudah jam 11 siang. Sedih rasanya, tapi Allah gantikan dengan bertemunya saya dengan mahasiswa Indonesia yang sedang mengadakan acara gathering idul fitri. Nggak ikutan sholat malah ikut makan-makan. Alhamdulillah mengobati kerinduan suasana hari raya.
Di hari H sesi poster, kembali saya merasa apa yang saya kerjakan sangatlah sederhana dibandingkan apa yang sudah dilakukan oleh peneliti lain di bidang ini (mungkin perasaan saya saja). Tapi guru saya selalu memberi dukungan dan menekankan akan pentingnya sudah berusaha. Bahkan beliau tanpa saya duga ikut berada dekat poster saya dan menjelaskan panjang lebar kepada mereka yang tertarik untuk mampir.
Alhamdulillah sudah diberi kesempatan ikut acara ini, bertemu banyak orang dan berdiskusi dengan mereka. Juga ternyata bisa bertemu dengan senior2 dan teman2 dari ITB sungguh suatu pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Semoga saya bisa menjalankan tugas studi ini sebaiknya....
Bidang Iontelkom LAPAN
Saya ingat ketika saya sedang studi S2 tahun 2003, ada gagasan membuat komunitas sains kebumian di regional Asia dan Oceania. Berikut saya ambil dari pendahuluan di website AOGS :
Asia Oceania Geosciences Society (AOGS) was established in 2003 to promote geosciences and its application for the benefit of humanity, specifically in Asia and Oceania and with an overarching approach to global issues.
Asia- Oceania region is particularly vulnerable to natural hazards, accounting for almost 80% human lives lost globally. AOGS is deeply involved in addressing hazard related issues through improving our understanding of the genesis of hazards through scientific, social and technical approaches.
AOGS holds annual conventions providing a unique opportunity of exchanging scientific knowledge and discussion to address important geo-scientific issues among academia, research institution and public.
Recognizing the need of global collaboration, AOGS has developed good co-operation with other international geo-science societies and unions such as the European Geosciences Union (EGU), American Geophysical Union (AGU), International Union of Geodesy and Geophysics (IUGG), Japan Geo-science Union (JpGU), and Science Council of Asia (SCA).
Dari penjelasan itu dapat dilihat bahwa cakupan dan pendekatan ilmu kebumian dalam komunitas ini sangatlah luas dari ilmu dasar, aplikasi, sampai ke pendekatan sosial. Konferensi ini juga menjadi salah satu sarana yang baik untuk interaksi antara negara-negara yang sudah maju dalam ilmu kebumian dengan negara-negara yang sedang berkembang. Hal tersebut terlihat dari koneksi yang coba dibuat antara AOGS, EGU, AGU, IUGG, dan JpGu.
Acara dimulai Senin, 28 Juli 2014 s.d. 1 Agustus 2014. Hampir 3000 orang menghadiri konferensi ini. Khusus di sesi saya yaitu Coupling Processes in The Mesosphere-Thermosphere-Ionosphere System, terlihat beberapa peneliti yang sudah tidak asing di bidang ini datang dari Jepang, China, Korea, Amerika, Jerman, Taiwan, India, dll. Kali ini saya menampilkan poster tentang studi saya mengenai ketidakteraturan lapisan ionosfer kaitannya dengan sintilasi yang merupakan gangguan penerimaan sinyal satelit.
Kami berangkat ke Sapporo Minggu siang. Hari itu Kyoto sedikit mendung bahkan ketika saya naik kereta dari Ohbaku ke Kyoto, hujan turun lumayan deras sehingga sedikit menyejukkan badan yang masih menjalani shaum. Sebagaimana umumnya masyarakat sini yang merasa aneh dengan shaum ramadhan (mereka menganggap kita sedang menyiksa diri), guru saya juga wanti2 via email agar saya menjaga kondisi kesehatan selama perjalanan dan saya sampaikan ke beliau untuk tidak terlalu khawatir karena kami sudah biasa melakukan ini setiap tahun. Saya pikir inilah saatnya saya jelaskan sedikit tentang agama saya, bahwa ramadhan bukan dimaksudkan untuk menyiksa manusia. Terus ada hal lain lagi yang menarik buat beliau yaitu kenapa penentuan berakhirnya ramadhan berbeda-beda?. Dengan sedikit pemahaman yg saya punya, saya coba jelaskan bahwa hal tersebut sebenarnya hanya karena perbedaan kriteria dan sekarang sedang diusahakan oleh pemerintah dan para ahli untuk membuat hal tersebut menjadi tidak berbeda lagi. Tapi dengan sedikit diskusi itu malah menjadikan beliau ikut sibuk mencarikan masjid di Sapporo.
Satu syawal 1435 H ini selain Idul Fitri kedua saya di Jepang, juga karena sebenarnya adalah hari pertama konferensi AOGS. Alhamdulillah gu ru saya mengijinkan saya untuk sholat Ied setelah saya daftar ulang di acara konferensi. Sayang sekali seorang teman yang saya harapkan bisa pergi bareng ternyata harus stand by di tempat acara, jadilah saya harus mencari sendiri keberadaan masjid itu. Allah belum ijinkan saya sholat hari itu karena masjid baru ketemu sesudah jam 11 siang. Sedih rasanya, tapi Allah gantikan dengan bertemunya saya dengan mahasiswa Indonesia yang sedang mengadakan acara gathering idul fitri. Nggak ikutan sholat malah ikut makan-makan. Alhamdulillah mengobati kerinduan suasana hari raya.
Di hari H sesi poster, kembali saya merasa apa yang saya kerjakan sangatlah sederhana dibandingkan apa yang sudah dilakukan oleh peneliti lain di bidang ini (mungkin perasaan saya saja). Tapi guru saya selalu memberi dukungan dan menekankan akan pentingnya sudah berusaha. Bahkan beliau tanpa saya duga ikut berada dekat poster saya dan menjelaskan panjang lebar kepada mereka yang tertarik untuk mampir.
Alhamdulillah sudah diberi kesempatan ikut acara ini, bertemu banyak orang dan berdiskusi dengan mereka. Juga ternyata bisa bertemu dengan senior2 dan teman2 dari ITB sungguh suatu pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Semoga saya bisa menjalankan tugas studi ini sebaiknya....
1/28/14
BERHATI-HATI MENERIMA INFORMASI
Dyah R Martiningrum
Peneliti Pussainsa LAPAN
Membaca posting seorang teman, saya terhenyak, ternyata banyak juga yang yakin sekali dengan teori konspirasi tentang rekayasa bencana alam di muka bumi ini. Seperti di blog berikut http://votreesprit.wordpress.com/2012/ 07/06/blue-beam-proyek-dajjal-penanda-datangnya-kiamat/. Orang yang pertama membahas masalah ini adalah teman seruangan saya, bahkan sempat dibahas di milis kantor. Orang kedua yang bertanya kepada saya langsung adalah seorang jurnalis dari media televisi nasional. Dan terakhir adalah teman yang sekarang ini. Saya tidak mengatakan bahwa semua informasi tentang itu salah 100%, hanya saja saya menangkap ada kesan:
-Ada semacam mencampuradukkan antara informasi saintifik yang ilmiah dengan opini pribadi dari penulis yang sepertinya tidak punya latar belakang keilmuan yang sedang ditulisnya dan yang diambil dari sumber-sumber yang tidak jelas alias hoax.
-Walaupun di Al Qur’an disebutkan tentang bangsa Yahudi yang sangat cerdas (Al Baqoroh : 47), tapi dalam tulisan itu seakan apapun bisa dilakukan atau dikuasai bangsa ini tanpa umat lain bisa melakukan apapun (apa memang iya? Saya meragukan ini).
-Saya melihat ujung tulisan ini adalah mengajak saudaranya untuk kembali kepada ajaran Allah. Saya setuju ajakannya, tapi caranya ini saya tidak setuju karena lebih banyak implikasi negatif daripada positifnya (menurut saya lho).
Walaupun saya pernah menanggapi tentang masalah ini di tulisan lama saya di sini dan di sini, tapi tidak ada salahnya saya coba memberi komentar lebih detil lagi postingan di blog tersebut.
Paragraf pertama sudah menjadi sunatullah sampai akhir jaman (Al Baqoroh : 120). Tentu ini menambah semangat kita untuk meningkatkan kualitas kita sebagai muslim, bukan dengan menebarkan permusuhan.
Paragraf kedua sampai keenam , tidak menyebut sumber pertama beritanya, bahkan saya menangkap pesan provokasi. Kejelasan informasi tentang lokasi proyek tsb tidak otomatis menunjukkan bahwa tujuan proyek itu adalah untuk mengelabui dan menyesatkan manusia, sungguh kesimpulan yang sangat picik(maaf). Kalau tentang urusan menyesatkan dan mengelabui umat dari agamanya, nggak perlu dengan megaproyek yang besar dan mahal itu, sekarang pun dengan mudah bisa dilakukan misalnya dengan media melalui bacaan dan tontonan kita. Jadi kenapa harus buang-buang uang. Tentang holografik, itu adalah produk ilmu pengetahuan dan teknologi yang sekarang pun kita bisa temui di berbagai tempat misal di bandara, di mall, di perayaan2 tertentu. Terlalu jauh kalau menghubungkan ini dengan memalingkan dan menyesatkan, apalagi kalau seorang muslim punya aqidah yang kuat, saya yakin tidak akan mudah disesatkan dan dipalingkan dengan holografik tersebut.
Paragraf tujuh dan seterusnya lebih banyak membahas tentang HAARP dan ‘kehebatannya’ yang bisa melakukan banyak hal dari rekayasa iklim dan bencana sampai manipulasi pikiran. Saya sebenarnya malas membaca yang bagian ini. Kelihatan sekali terlalu menyederhanakan sesuatu. Lagi-lagi sumber yang tidak jelas. Ada disebut juga tentang anak muda bernama Richard John Clay, anak band dan peneliti yang dibunuh akibat postingan di blognya. Menurut saya uraian berikutnya tentang anak muda itu tidak jelas, juga alasan tentang pembunuhannya. Kemudian hasil percobaan gelombang radio frekuensi rendah yang mampu menghancurkan miniatur bangunan, tidak membuat saya langsung percaya itu mudah diaplikasikan di alam. Seharusnya kita paham bahwa fenomena alam itu bersifat sangat tidak linier. Jadi bukan sesuatu yang mudah untuk memanfaatkan sifat alamiah gelombang radio yang dipantulkan ke stratosfer maupun ionosfer untuk membangkitkan sedemikan banyak bencana dan perubahan iklim global.
Ayolah…., Allah mengaruniakan akal kepada manusia untuk ‘membaca’ dan berpikir. Tidak menelan mentah-mentah informasi yang kita terima. Alangkah naifnya bila inofrmasi semacam itu hanya akan menebarkan permusuhan di antara umat manusia.
Allah menciptakan manusia untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Lebih baik kerjakan saja yang terbaik yang bisa dilakukan dan jangan lupa selalu mohon ampun dan meminta perlindungan serta pertolongan dari Allah.
Wallahu a'lam bishowab
Peneliti Pussainsa LAPAN
Membaca posting seorang teman, saya terhenyak, ternyata banyak juga yang yakin sekali dengan teori konspirasi tentang rekayasa bencana alam di muka bumi ini. Seperti di blog berikut http://votreesprit.wordpress.com/2012/ 07/06/blue-beam-proyek-dajjal-penanda-datangnya-kiamat/. Orang yang pertama membahas masalah ini adalah teman seruangan saya, bahkan sempat dibahas di milis kantor. Orang kedua yang bertanya kepada saya langsung adalah seorang jurnalis dari media televisi nasional. Dan terakhir adalah teman yang sekarang ini. Saya tidak mengatakan bahwa semua informasi tentang itu salah 100%, hanya saja saya menangkap ada kesan:
-Ada semacam mencampuradukkan antara informasi saintifik yang ilmiah dengan opini pribadi dari penulis yang sepertinya tidak punya latar belakang keilmuan yang sedang ditulisnya dan yang diambil dari sumber-sumber yang tidak jelas alias hoax.
-Walaupun di Al Qur’an disebutkan tentang bangsa Yahudi yang sangat cerdas (Al Baqoroh : 47), tapi dalam tulisan itu seakan apapun bisa dilakukan atau dikuasai bangsa ini tanpa umat lain bisa melakukan apapun (apa memang iya? Saya meragukan ini).
-Saya melihat ujung tulisan ini adalah mengajak saudaranya untuk kembali kepada ajaran Allah. Saya setuju ajakannya, tapi caranya ini saya tidak setuju karena lebih banyak implikasi negatif daripada positifnya (menurut saya lho).
Walaupun saya pernah menanggapi tentang masalah ini di tulisan lama saya di sini dan di sini, tapi tidak ada salahnya saya coba memberi komentar lebih detil lagi postingan di blog tersebut.
Paragraf pertama sudah menjadi sunatullah sampai akhir jaman (Al Baqoroh : 120). Tentu ini menambah semangat kita untuk meningkatkan kualitas kita sebagai muslim, bukan dengan menebarkan permusuhan.
Paragraf kedua sampai keenam , tidak menyebut sumber pertama beritanya, bahkan saya menangkap pesan provokasi. Kejelasan informasi tentang lokasi proyek tsb tidak otomatis menunjukkan bahwa tujuan proyek itu adalah untuk mengelabui dan menyesatkan manusia, sungguh kesimpulan yang sangat picik(maaf). Kalau tentang urusan menyesatkan dan mengelabui umat dari agamanya, nggak perlu dengan megaproyek yang besar dan mahal itu, sekarang pun dengan mudah bisa dilakukan misalnya dengan media melalui bacaan dan tontonan kita. Jadi kenapa harus buang-buang uang. Tentang holografik, itu adalah produk ilmu pengetahuan dan teknologi yang sekarang pun kita bisa temui di berbagai tempat misal di bandara, di mall, di perayaan2 tertentu. Terlalu jauh kalau menghubungkan ini dengan memalingkan dan menyesatkan, apalagi kalau seorang muslim punya aqidah yang kuat, saya yakin tidak akan mudah disesatkan dan dipalingkan dengan holografik tersebut.
Paragraf tujuh dan seterusnya lebih banyak membahas tentang HAARP dan ‘kehebatannya’ yang bisa melakukan banyak hal dari rekayasa iklim dan bencana sampai manipulasi pikiran. Saya sebenarnya malas membaca yang bagian ini. Kelihatan sekali terlalu menyederhanakan sesuatu. Lagi-lagi sumber yang tidak jelas. Ada disebut juga tentang anak muda bernama Richard John Clay, anak band dan peneliti yang dibunuh akibat postingan di blognya. Menurut saya uraian berikutnya tentang anak muda itu tidak jelas, juga alasan tentang pembunuhannya. Kemudian hasil percobaan gelombang radio frekuensi rendah yang mampu menghancurkan miniatur bangunan, tidak membuat saya langsung percaya itu mudah diaplikasikan di alam. Seharusnya kita paham bahwa fenomena alam itu bersifat sangat tidak linier. Jadi bukan sesuatu yang mudah untuk memanfaatkan sifat alamiah gelombang radio yang dipantulkan ke stratosfer maupun ionosfer untuk membangkitkan sedemikan banyak bencana dan perubahan iklim global.
Ayolah…., Allah mengaruniakan akal kepada manusia untuk ‘membaca’ dan berpikir. Tidak menelan mentah-mentah informasi yang kita terima. Alangkah naifnya bila inofrmasi semacam itu hanya akan menebarkan permusuhan di antara umat manusia.
Allah menciptakan manusia untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Lebih baik kerjakan saja yang terbaik yang bisa dilakukan dan jangan lupa selalu mohon ampun dan meminta perlindungan serta pertolongan dari Allah.
Wallahu a'lam bishowab
7/29/13
Pengalaman menjadi Koordinator
Sudah lumayan lama nggak update blog. Sebenarnya ada beberapa catatan peristiwa berkaitan dengan pekerjaan dan sebagai ibu RT yg ingin dibagi di blog ini, tapi rasanya cuma berhenti di kepala. Beberapa kejadian yg perlu dicatat antara lain di saat agak kecewa karena belum diijinkan Allah kembali mengunjungi Kyoto di bulan Februari, tiba-tiba ada tugas untuk mengkoordinasi kegiatan workshop international yang melibatkan Kyoto University. Kondisi itu mungkin untuk orang lain akan menjadi tantangan yang menyenangkan, tapi bagi saya malah seperti sesuatu yang dikerjakan dengan tidak sepenuh hati. Ditambah lagi waktu yang ada dari persiapan sampai hari H, praktis kurang dari 2 bulan. Tapi Alhamdulillah, Allah memberikan banyak kemudahan sehingga acara berjalan lancar.
Latar belakang diadakan acara workshop ini adalah bahwa telah sejak lama ada kerjasama penelitian tentang dinamika lapisan atmosfer di daerah ekuator (Indonesia)antara beberapa lembaga penelitian di Indonesia dan lembaga penelitian di Jepang. Kenapa Indonesia menarik? Karena posisi geografis Indonesia menempatkannya menjadi wilayah dengan dinamika atmosfer tengah dan atas yang aktif sehingga disebut juga sebagai dynamo yang menjadi sumber pembentukan awan2 cumulus yang aktif. Dinamika atmosfer di wilayah Indonesia akan berdampak terhadap wilayah lain melalui sirkulasi global yang terbentuk antara ekuator, lintang rendah, dan lintang tinggi.
Kerjasama tersebut terus ditingkatkan mengingat semakin pentingnya memahami kondisi cuaca antariksa, mengingat perkembangan teknologi terkini yang akan terkena dampak perubahan cuaca antariksa (misalnya satelit komunikasi). Nah, acara workshop ini bertujuan untuk saling berbagi tentang hasil-hasil penelitian yang telah dicapai dan memikirkan kelanjutan dan arah kerjasama berikutnya. Workshop berlangsung hanya dua hari, 25-26 Maret 2013.
Hasil-hasil penelitian yang disampaikan cukup beragam dari penelitian tentang matahari dan antariksa, geomagnet, sampai kepada penelitian tentang lapisan ionosfer. Saya dan teman-teman dalam kesempatan itu mencoba melihat keterkaitan fenomena ketidakteraturan di lapisan ionosfer yang diindikasikan oleh Field Aligned Irregularities dari data radar dengan kejadian sintilasi di lapisan ionosfer. Sintilasi adalah terjadinya gangguan di lapisan ionosfer berupa adanya perubahan sinyal yang diterima oleh alat penerima satelit GPS, sehingga akan berpengaruh terhadap akuraasi hasil pengukuran satelit GPS. Hasilnya menunjukkan ada keterkaitan antara ketidakteraturan di lapisan ionosfer (spread F) dengan peristiwa sintilasi (lihat di poster). Usai kegiatan ini PR nya adalah tentang evaluasi acara, laporan, dan proceedings. Yang terakhir ini yang mungkin akan perlu kerja keras. Terakhir pihak Jepang melalui email ke saya menyampaikan terima kasih atas dukungan teman-teman panitia, struktural, peserta dan yg lainnya sehingga acaranya berjalan lancar.
Latar belakang diadakan acara workshop ini adalah bahwa telah sejak lama ada kerjasama penelitian tentang dinamika lapisan atmosfer di daerah ekuator (Indonesia)antara beberapa lembaga penelitian di Indonesia dan lembaga penelitian di Jepang. Kenapa Indonesia menarik? Karena posisi geografis Indonesia menempatkannya menjadi wilayah dengan dinamika atmosfer tengah dan atas yang aktif sehingga disebut juga sebagai dynamo yang menjadi sumber pembentukan awan2 cumulus yang aktif. Dinamika atmosfer di wilayah Indonesia akan berdampak terhadap wilayah lain melalui sirkulasi global yang terbentuk antara ekuator, lintang rendah, dan lintang tinggi.
Kerjasama tersebut terus ditingkatkan mengingat semakin pentingnya memahami kondisi cuaca antariksa, mengingat perkembangan teknologi terkini yang akan terkena dampak perubahan cuaca antariksa (misalnya satelit komunikasi). Nah, acara workshop ini bertujuan untuk saling berbagi tentang hasil-hasil penelitian yang telah dicapai dan memikirkan kelanjutan dan arah kerjasama berikutnya. Workshop berlangsung hanya dua hari, 25-26 Maret 2013.
Hasil-hasil penelitian yang disampaikan cukup beragam dari penelitian tentang matahari dan antariksa, geomagnet, sampai kepada penelitian tentang lapisan ionosfer. Saya dan teman-teman dalam kesempatan itu mencoba melihat keterkaitan fenomena ketidakteraturan di lapisan ionosfer yang diindikasikan oleh Field Aligned Irregularities dari data radar dengan kejadian sintilasi di lapisan ionosfer. Sintilasi adalah terjadinya gangguan di lapisan ionosfer berupa adanya perubahan sinyal yang diterima oleh alat penerima satelit GPS, sehingga akan berpengaruh terhadap akuraasi hasil pengukuran satelit GPS. Hasilnya menunjukkan ada keterkaitan antara ketidakteraturan di lapisan ionosfer (spread F) dengan peristiwa sintilasi (lihat di poster). Usai kegiatan ini PR nya adalah tentang evaluasi acara, laporan, dan proceedings. Yang terakhir ini yang mungkin akan perlu kerja keras. Terakhir pihak Jepang melalui email ke saya menyampaikan terima kasih atas dukungan teman-teman panitia, struktural, peserta dan yg lainnya sehingga acaranya berjalan lancar.
1/23/13
Uniknya Dominasi Otak Kanan Ghayda
Dyah R Martiningrum
Ibuk Fajar dan Ghayda
Berawal dari ketika saya mengikuti talent mapping yang diadain kantor. Saat istirahat, pembawa acara mengajak peserta untuk refreshing dengan melakukan beberapa permainan diantaranya kami disuruh melekatkan jari-jari tangan kanan dan tangan kiri pada hitungan tertentu secara spontan (seperti pada foto di atas). Konon, bila ibu jari tangan kanan ada di atas berarti yang dominan adalah otak kiri, dan sebaliknya bila ibu jari tangan kiri yang di atas yang dominan adalah otak kanan.
Sampai di rumah saya coba permainan itu ke anak-anak, dan hasilnya seperti yang terlihat di foto di atas. Yang ibu jari tangan kanannya ada di atas adalah tangan Fajar, si sulung, sementara yang ibu jari tangan kirinya di atas adalah anak keduaku, Ghayda. Hanya permainan untuk senang-senang dan waktupun berlalu sampai pada suatu saat...
Suatu siang di sekolah Fajar (kelas 6) dan Ghayda (kelas 1) saat penerimaan raport, guru Ghayda sempat menanyakan kepada kami, kenapa Ghayda kalau dipanggil kok tidak langsung menengok? Saya bilang, mungkin dia sedang asyik dengan aktivitas tertentu. Terus yang kedua kenapa Ghayda kalau sedang mengerjakan tugas di sekolah kok tidak terlalu yakin dengan kemampuannya sendiri? sehingga suatu hari saat ada ulangan harian matematika, dia sudah kerjakan soalnya, tapi kemudian merasa tidak yakin dengan hasilnya, alhasil meliriklah ke pekerjaan temannya dan mengganti yang telah dikerjakan menjadi sama dengan hasil temannya, padahal yang benar adalah jawaban Ghayda yang pertama. Sesampai di rumah, kami berusaha menanyakan tentang laporan bu Guru ke Ghayda, dia hanya menjawab kalau dia nggak langsung nengok pas dipanggil bu Guru karena teman-teman pada berisik. Terus tentang nyontek, dia hanya menolak kalau telah melakukan itu..Yaa sudah kami hanya ingin tahu dari sisi Ghayda..
Suatu malam Ghayda mengeluh, dia nggak bisa pelajaran matematika hari ini, dari 3 latihan nilainya 100, 60, dan 90. Saya coba ajak dia buka lagi latihannya dan ingin tahu apa sih kesulitannya. Ghayda punya kendala pemahaman. Sepertinya dia takut sekali melakukan kesalahan sehingga penuh keraguan dalam menjawab pertanyaan. Saya coba tumbuhkan kepercayaan dirinya dengan berbagai motivasi dan pemahaman bahwa jawaban dia nggak harus langsung benar, tapi beranilah mengemukakan jawaban itu jadi saya tahu benar atau salah. Sampai, pada titik dia sangat sedih karena nggak tahu apa yang harus dijawabnya akhirnya menangis....
Masalah Ghayda lumayan jadi pikiran kami...
Setelah beberapa waktu saya ingat tentang permainan di talent mapping itu. Saya pun mulai menduga, mungkin masalah Ghayda karena dominasi otak kanannya, walaupun kami belum sempat konfirmasi ke ahlinya. Mencari beberapa artikel di internet dan ahaaa, cocok banget yg saya dapat dengan yang dialami Ghayda. Ada perbedaan menghadapi anak dominan otak kiri dan dominan otak kanan.
Anak otak kanan akan memiliki perasaan yang peka. Bener banget, Ghayda sangat tidak nyaman kalau saya sedikit mengeraskan suara atau saya sedang memberi perhatian dan pujian kepada mas nya..
Solusinya; minimalkan tekanan terhadap anak otak kanan, sehingga akan menjadi lebih percaya diri. Selalu beri dukungan dan motivasi bahwa hasil usaha adalah bukan yang terpenting, yang paling penting adalah usaha dan kemauannya sudah sekuat tenaga. Kemudian, hindarkan kesan menyuruh, tapi lebih baik berupa ajakan.
Anak otak kanan tidak suka dikritik atau disalahkan. Sebenarnya ini berlaku untuk semua anak, bahkan semua orang. Hanya saja anak otak kanan akan sangat terluka bila disalahkan, berbeda dengan anak otak kiri yang lebih logis menghadapi setiap kritik.
Anak otak kanan sangat menyukai tantangan. Konon anak otak kanan ketika dihadapkan pada tugas-tugas atau masalah yang sangat sulit, mereka akan sangat fokus dan mempunyai kemampuan memvisualisasikannya.
Anak otak kanan sangat berpotensi memiliki gangguan dalam konsentrasi, oleh karena itu, mereka memerlukan tempat yang sepi dan tenang untuk menyelesaikan tugas-tugas. Jauhkan mereka dari kemudahan mengakses televisi, karena TV adalah salah satu yang dapat merusak konsentrasi mereka.
Anak otak kanan tidak akan nyaman untuk duduk atau diam terlalu lama. Jadi biarkan mereka banyak bergerak, karena saat bergerak pun mereka masih bisa berfikir dan mendengarkan.
Anak otak kanan akan berpikir dari yang umum ke yang khusus, oleh karena itu mereka perlu mendapat gambaran global sebelum masuk ke hal lebih detil.
Anak otak kanan memiliki daya ingat dan pandai memvisualisasikan sesuatu.
Ketika saya bingung mencari cara menyusun angka puluhan dan satuan ketika dijumlahkan karena Ghayda nggak kunjung mengerti, maka saya coba bilang kalau sama tempatnya dijumlahkan langsung(puluhan atau satuan), kalau berbeda tempatnya, dijajarin sambil saya jajarkan kedua jari telunjuk tangan saya, eee malah Ghayda langsung mengerti dan melakukan hal yang sama setiap menemui penjumlahan yang serupa.
Dengan pendekatan yang sedikit berbeda tersebut, alhamdulillah Ghayda mulai ada perubahan. Mulai tumbuh rasa percaya diri. Bahkan sekarang sangat bersemangat dan antusias ketika ada PR matematika. Selepas adzan subuh pagi tadi, turun dari tempat tidur, dia langsung ambil bukunya karena ada beberapa soal PR nya yang tadi malam belum selesai. "Ibu...Adik mau lanjutin PR nya..."
Tinggal satu lagi PR buat saya, yaitu menyampaikan ini ke Guru kelasnya. Sekedar bisa meminimalkan hal yang mungkin kurang positif untuk anak-anak otak kanan.
Ibuk Fajar dan Ghayda
Berawal dari ketika saya mengikuti talent mapping yang diadain kantor. Saat istirahat, pembawa acara mengajak peserta untuk refreshing dengan melakukan beberapa permainan diantaranya kami disuruh melekatkan jari-jari tangan kanan dan tangan kiri pada hitungan tertentu secara spontan (seperti pada foto di atas). Konon, bila ibu jari tangan kanan ada di atas berarti yang dominan adalah otak kiri, dan sebaliknya bila ibu jari tangan kiri yang di atas yang dominan adalah otak kanan.
Sampai di rumah saya coba permainan itu ke anak-anak, dan hasilnya seperti yang terlihat di foto di atas. Yang ibu jari tangan kanannya ada di atas adalah tangan Fajar, si sulung, sementara yang ibu jari tangan kirinya di atas adalah anak keduaku, Ghayda. Hanya permainan untuk senang-senang dan waktupun berlalu sampai pada suatu saat...
Suatu siang di sekolah Fajar (kelas 6) dan Ghayda (kelas 1) saat penerimaan raport, guru Ghayda sempat menanyakan kepada kami, kenapa Ghayda kalau dipanggil kok tidak langsung menengok? Saya bilang, mungkin dia sedang asyik dengan aktivitas tertentu. Terus yang kedua kenapa Ghayda kalau sedang mengerjakan tugas di sekolah kok tidak terlalu yakin dengan kemampuannya sendiri? sehingga suatu hari saat ada ulangan harian matematika, dia sudah kerjakan soalnya, tapi kemudian merasa tidak yakin dengan hasilnya, alhasil meliriklah ke pekerjaan temannya dan mengganti yang telah dikerjakan menjadi sama dengan hasil temannya, padahal yang benar adalah jawaban Ghayda yang pertama. Sesampai di rumah, kami berusaha menanyakan tentang laporan bu Guru ke Ghayda, dia hanya menjawab kalau dia nggak langsung nengok pas dipanggil bu Guru karena teman-teman pada berisik. Terus tentang nyontek, dia hanya menolak kalau telah melakukan itu..Yaa sudah kami hanya ingin tahu dari sisi Ghayda..
Suatu malam Ghayda mengeluh, dia nggak bisa pelajaran matematika hari ini, dari 3 latihan nilainya 100, 60, dan 90. Saya coba ajak dia buka lagi latihannya dan ingin tahu apa sih kesulitannya. Ghayda punya kendala pemahaman. Sepertinya dia takut sekali melakukan kesalahan sehingga penuh keraguan dalam menjawab pertanyaan. Saya coba tumbuhkan kepercayaan dirinya dengan berbagai motivasi dan pemahaman bahwa jawaban dia nggak harus langsung benar, tapi beranilah mengemukakan jawaban itu jadi saya tahu benar atau salah. Sampai, pada titik dia sangat sedih karena nggak tahu apa yang harus dijawabnya akhirnya menangis....
Masalah Ghayda lumayan jadi pikiran kami...
Setelah beberapa waktu saya ingat tentang permainan di talent mapping itu. Saya pun mulai menduga, mungkin masalah Ghayda karena dominasi otak kanannya, walaupun kami belum sempat konfirmasi ke ahlinya. Mencari beberapa artikel di internet dan ahaaa, cocok banget yg saya dapat dengan yang dialami Ghayda. Ada perbedaan menghadapi anak dominan otak kiri dan dominan otak kanan.
Anak otak kanan akan memiliki perasaan yang peka. Bener banget, Ghayda sangat tidak nyaman kalau saya sedikit mengeraskan suara atau saya sedang memberi perhatian dan pujian kepada mas nya..
Solusinya; minimalkan tekanan terhadap anak otak kanan, sehingga akan menjadi lebih percaya diri. Selalu beri dukungan dan motivasi bahwa hasil usaha adalah bukan yang terpenting, yang paling penting adalah usaha dan kemauannya sudah sekuat tenaga. Kemudian, hindarkan kesan menyuruh, tapi lebih baik berupa ajakan.
Anak otak kanan tidak suka dikritik atau disalahkan. Sebenarnya ini berlaku untuk semua anak, bahkan semua orang. Hanya saja anak otak kanan akan sangat terluka bila disalahkan, berbeda dengan anak otak kiri yang lebih logis menghadapi setiap kritik.
Anak otak kanan sangat menyukai tantangan. Konon anak otak kanan ketika dihadapkan pada tugas-tugas atau masalah yang sangat sulit, mereka akan sangat fokus dan mempunyai kemampuan memvisualisasikannya.
Anak otak kanan sangat berpotensi memiliki gangguan dalam konsentrasi, oleh karena itu, mereka memerlukan tempat yang sepi dan tenang untuk menyelesaikan tugas-tugas. Jauhkan mereka dari kemudahan mengakses televisi, karena TV adalah salah satu yang dapat merusak konsentrasi mereka.
Anak otak kanan tidak akan nyaman untuk duduk atau diam terlalu lama. Jadi biarkan mereka banyak bergerak, karena saat bergerak pun mereka masih bisa berfikir dan mendengarkan.
Anak otak kanan akan berpikir dari yang umum ke yang khusus, oleh karena itu mereka perlu mendapat gambaran global sebelum masuk ke hal lebih detil.
Anak otak kanan memiliki daya ingat dan pandai memvisualisasikan sesuatu.
Ketika saya bingung mencari cara menyusun angka puluhan dan satuan ketika dijumlahkan karena Ghayda nggak kunjung mengerti, maka saya coba bilang kalau sama tempatnya dijumlahkan langsung(puluhan atau satuan), kalau berbeda tempatnya, dijajarin sambil saya jajarkan kedua jari telunjuk tangan saya, eee malah Ghayda langsung mengerti dan melakukan hal yang sama setiap menemui penjumlahan yang serupa.
Dengan pendekatan yang sedikit berbeda tersebut, alhamdulillah Ghayda mulai ada perubahan. Mulai tumbuh rasa percaya diri. Bahkan sekarang sangat bersemangat dan antusias ketika ada PR matematika. Selepas adzan subuh pagi tadi, turun dari tempat tidur, dia langsung ambil bukunya karena ada beberapa soal PR nya yang tadi malam belum selesai. "Ibu...Adik mau lanjutin PR nya..."
Tinggal satu lagi PR buat saya, yaitu menyampaikan ini ke Guru kelasnya. Sekedar bisa meminimalkan hal yang mungkin kurang positif untuk anak-anak otak kanan.
1/18/12
Pengabdian dan Ketulusan
Dyah R Martiningrum
Peneliti Bidang Ionosfer dan Telekomunikasi LAPAN.
Namanya sebenarnya sudah beberapa kali terbaca pada jurnal-jurnal yang berkaitan dengan penelitian dinamika atmosfer dari atmosfer tengah sampai ke atas termasuk ionosfer. Sampai pada suatu saat kutemukan kembali namanya di jurnal JASTP (Journal Atmospheric and Solar Terrestrial Physics). Waktu itu saya sedang mengikuti semacam workshop berkaitan dengan cuaca antariksa di Trieste, Italia, Oktober 2010. Karena saya sangat tertarik dengan edisi JASTP itu dan kebetulan dia sebagai editornya, maka iseng-iseng saya email dia dan meminta apakah dia bisa ngasih edisi itu ke saya. Dengan sangat sopan dia menjelaskan bahwa dia tidak mungkin memberikan seluruh isi edisi itu karena berkaitan dengan hak cipta dan sebagainya, makanya dia minta saya pilih saja beberapa, nanti akan dikirim file pdfnya ke saya. Itulah komunikasi pertama terjadi.
Ketika tahu bahwa saya orang Indonesia, dia sangat senang karena mengingatkan dia akan kenangan masa lalu saat mendampingi sang suami menjadi duta besar di Indonesia antara tahun 1992 sampai dengan 1998. Saya ingat sekali komentarnya : "....I lived in Indonesia between 1992 and 1998 and like very much your country and particularly the people. I am not sure that will have chance to visit Indonesia again, but who knows".
Lima bulan kemudian, berkaitan dengan pekerjaan, kembali saya kontak dia untuk menanyakan beberapa hal. Ternyata, dia jelaskan semuanya panjang lebar, bahkan untuk meyakinkan saya, dikiriminya saya beberapa tulisannya dan tulisan kolega-koleganya. Katanya saya harus cek sendiri, karena dia meneliti masalah yang saya tanyakan sudah beberapa waktu sebelumnya, takut ada informasi yang kurang.
Terakhir kontak adalah ketika saya memerlukan rekomendasi dari 3 orang peneliti senior. Dua orang senior di kantor sudah memberikan rekomendasinya, satu orang lagi yang sudah bersedia, karena suatu hal pada saat-saat terakhir batas waktu pendaftaran suatu event malah susah ditemui. Tiba-tiba saja ingat dia dan spontan email dia, ternyata hanya dalam waktu sehari dibalasnya dan diberikannya apa yang saya perlukan, walaupun tidak saat itu juga karena ketika membalas email itu kondisinya sedang rapat. Tidak lupa dia juga menyertakan beberapa saran tentang CV saya. Subhanallah, saya sangat kagum dengan bagaimana pengabdian dan ketulusannya terhadap bidang pekerjaannya yang sebagai ilmuwan. Ketika saya sampaikan penghargaan saya akan etos kerjanya, pengabdian dan ketulusannya, dia hanya berkomentar : "I am a person who strongly support young scientists who particularly would like to be educated more".
Terima kasih Dora Pancheva. Dia adalah salah satu ibu yang menginspirasi saya. Mudah-mudahan Allah beri kesempatan untuk bertemu langsung suatu saat. "Who knows", seperti pernah dia katakan.
Peneliti Bidang Ionosfer dan Telekomunikasi LAPAN.
Namanya sebenarnya sudah beberapa kali terbaca pada jurnal-jurnal yang berkaitan dengan penelitian dinamika atmosfer dari atmosfer tengah sampai ke atas termasuk ionosfer. Sampai pada suatu saat kutemukan kembali namanya di jurnal JASTP (Journal Atmospheric and Solar Terrestrial Physics). Waktu itu saya sedang mengikuti semacam workshop berkaitan dengan cuaca antariksa di Trieste, Italia, Oktober 2010. Karena saya sangat tertarik dengan edisi JASTP itu dan kebetulan dia sebagai editornya, maka iseng-iseng saya email dia dan meminta apakah dia bisa ngasih edisi itu ke saya. Dengan sangat sopan dia menjelaskan bahwa dia tidak mungkin memberikan seluruh isi edisi itu karena berkaitan dengan hak cipta dan sebagainya, makanya dia minta saya pilih saja beberapa, nanti akan dikirim file pdfnya ke saya. Itulah komunikasi pertama terjadi.
Ketika tahu bahwa saya orang Indonesia, dia sangat senang karena mengingatkan dia akan kenangan masa lalu saat mendampingi sang suami menjadi duta besar di Indonesia antara tahun 1992 sampai dengan 1998. Saya ingat sekali komentarnya : "....I lived in Indonesia between 1992 and 1998 and like very much your country and particularly the people. I am not sure that will have chance to visit Indonesia again, but who knows".
Lima bulan kemudian, berkaitan dengan pekerjaan, kembali saya kontak dia untuk menanyakan beberapa hal. Ternyata, dia jelaskan semuanya panjang lebar, bahkan untuk meyakinkan saya, dikiriminya saya beberapa tulisannya dan tulisan kolega-koleganya. Katanya saya harus cek sendiri, karena dia meneliti masalah yang saya tanyakan sudah beberapa waktu sebelumnya, takut ada informasi yang kurang.
Terakhir kontak adalah ketika saya memerlukan rekomendasi dari 3 orang peneliti senior. Dua orang senior di kantor sudah memberikan rekomendasinya, satu orang lagi yang sudah bersedia, karena suatu hal pada saat-saat terakhir batas waktu pendaftaran suatu event malah susah ditemui. Tiba-tiba saja ingat dia dan spontan email dia, ternyata hanya dalam waktu sehari dibalasnya dan diberikannya apa yang saya perlukan, walaupun tidak saat itu juga karena ketika membalas email itu kondisinya sedang rapat. Tidak lupa dia juga menyertakan beberapa saran tentang CV saya. Subhanallah, saya sangat kagum dengan bagaimana pengabdian dan ketulusannya terhadap bidang pekerjaannya yang sebagai ilmuwan. Ketika saya sampaikan penghargaan saya akan etos kerjanya, pengabdian dan ketulusannya, dia hanya berkomentar : "I am a person who strongly support young scientists who particularly would like to be educated more".
Terima kasih Dora Pancheva. Dia adalah salah satu ibu yang menginspirasi saya. Mudah-mudahan Allah beri kesempatan untuk bertemu langsung suatu saat. "Who knows", seperti pernah dia katakan.
12/8/10
International Workshop on Space Weather
Sebagai langkah awal AOSWA, 1-3 Desember 2010. Jepang memprakarsai terbentuknya kelompok penelitian Cuaca Antariksa kawasan Asia Oseania.
Cuaca Antariksa memang lagi banyak dibicarakan orang, mungkin karena manusia di bumi sudah punya ketergantungan yang tinggi kepada sistem teknologi yang memanfaatkan atmosfer-ionosfer sebagai medianya, sehingga bila ada gangguan di matahari akan berdampak juga terhadap kehidupan di bumi.

Beberapa minggu sebelumnya juga sempat mengikuti International Advanced School on Space Weather Modeling and Applications di ICTP, Trieste-Italia. Banyak dibahas dasar2 cuaca antariksa, bagaimana monitoring dan pemodelannya, serta bagaimana menyajikannya sebagai informasi cuaca antariksa kepada masyarakat sebagai wujud kepeduliaan kelompok2 penelitian yang ada, terutama di benua Eropa.
Subscribe to:
Posts (Atom)





